LAPORAN TEKNOLOGI PERSIAPAN PERTENUNAN I
PENGGINTIRAN TURUN DAN PENYETELAN ARAH TWIST
Disusun oleh :
Nama : Ariska Jaya Permana
NPM : 13010071
Grup : 2 T3
Dosen : Irwan S.Teks
Asisten : Amat Bin Atma
Ipan S
SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI TEKSTIL
2014
BANDUNG
2014
BANDUNG
I. Tujuan
Benang yang sudah dikelos dengan hasil berupa gulungan benang (cones) akan mengalami proses selanjutnya sesuai dengan tujuan dan fungsi benang itu selanjutnya. Tujuan dari proses penggintiran benang adalah sebagai berikut :
a. Membuat benang yang diameternya lebih besar.
Hal ini sesuai dengan proses selanjutnya, karena hasil dari proses penggintiran akan digunakan sebagai bahan pada proses pertenunan baik untuk benang pakan atau lusi.
b. Membuat benang yang kekuatannya lebih tinggi
Misalnya benang Ne1 60 ditwist dengan Ne1 50 dari benang tersebut sudah mempunyai kekuatan tinggi, maka dengan benang tersebut ditwist kekuatannya akan bertambah besar.
c. Membuat benang yang mempunyai sifat-sifat tertentu.
d. Membuat benang hias.
e. Dapat menjelaskan bagian - bagian penting mesin gintir turun .
f. Dapat menjelaskan proses /jalannya penggintiran benang .
g. Dapat menjelaskan pemasanganpita spindle sesuai dengan arah tiwst yang dikehendaki.
h. Dapat menjelaskan besarnya TPI yang diinginkan.
II. Teori Dasar
Proses penggintiran adalah proses merangkap dua helai benang atau lebih menjadi satu sambil diberi puntiran yang telah ditentukan dengan panjang dan satuan tertentu. Hasil dari proses ini disebut benang gintir. Puntiran/gintiran yang diberikan pada benang bila dinyatakan dalam satuan panjang dapat dibedakan menjadi 3 yaitu :
a. Twist persentimeter (TPC)
Satuan ini biasa digunakan untuk jenis benang kapas.
b. Twisr perinchi (TPI)
Satuan ini banyak digunakan dalam dunia tekstil karena menganut sistim internasional, juga digunakan untuk benang kapas (Ne1)
c. Twist permeter (TPM)
Satuan ini biasa digunakan untuk benang dengan nomor Td, untuk benang filament.
Ada dua cara proses perangkapan, yaitu :
a. Perangkapan langsung diatas mesin gintir
Yaitu proses penggintiran dimana ada dua proses yang dikerjakan dalam mesin gintir, yaitu proses perangkapan dan prose penggintiran itu sendiri. Dimana dua helai benang atau lebih diletakkan pada rak bobin diatas mesin. Bebrapa helai benang single ditarik bersama-sama melalui rol pengantar, ke delivery roll, terus digintir dan digulung pada bobin spindle dari mesin gintir.
Keuntungan cara ini ialah bahwa prosesnya pendek, tidak memerlukan mesin perangkap. Kekurangannya ialah tiap helai benang sukar dikontrol keadaanya maupun tegangannya, sehingga sering diperoleh hasil gintiran yang kurang rata. Untuk mesin yang tidak dilengkapi dengan stop-motion, pada setiap pengantar benang single, kemungkinan besar terjadi salah gintir, umpamanya karena beberapa helai benang putus yang terus masih digintir.
b. Cara tidak langsung
Pada proses ini mesin gintir hanya memerlukan satu proses saja, yaitu proses penggintiran. Sedangkan benang yang diproses telah didouble pada mesin doubler lebih dulu. Keuntungan dari cara ini yaitu antara lain :
- Tegangan tiap-tiap helai benang terkontrol.
- Tiap-tiap bobin telah berisi benang rangkap, sehingga pada waktu diproses (ditarik) pada mesin gintir, kemungkinan putus benang kecil.
- Kemungkinan akan terjadinya salah gintir (penggintiran tunggal) kecil.
- Efisiensi produksi dapat ditingkatkan, begitu pula dengan mutu benang gintir yang dihasilkan.
Berdasarkan jalannya proses benang, mesin gintir dapat digolongkan :
1. Penggintiran turun (Down Twister)
2. Penggintiran naik (Up Twister)
3. Penggintiran basah (Wet Twister)
4. Penggintiran hias (Fancy Twister)
Dalam praktek ini dibahas adalah penggintiran turun, sehingga yang diulas adalah proses penggintiran turun.
Penggintiran turun (Down Twister)
Pada sistim ini, jalannya benang yang dikerjakan dari rak kelosan sampai digulung pada bobin atas kebawah (down process). Skema penggintiran turun (down twist) ini dapat dilhat pada gambar. Secara teori produksi mesin gintir sama dengan panjang benang yang dapat disuapkan oleh delivery roll, dengan kata lain panjang benang ini sama dengan kecepatan keliling (k.k.) daripada delivery roll. Seperti kita ketahui benang sesudah melalui delivery roll terus diberi twist karena putaran traveller, karena itu sesudah benang digulung pada bobin akan mengalami pemendekan karena adanya twist. Keadaan ini disebut twist contaction, sehingga hasil produksi nyata tidak sama (lebih kecil) daripada k.k. delivery roll-nya. Besar twist contraction tergantung dari nomer benang dan banyaknya twist yang diberikan.
Arah puntiran benang ada 2 macam, biasa disebut :
- Putaran S
-
Putaran Z
III. Alat dan Bahan
1. Mesin twister penggintiran turun.
2. Bobin kosong
3. Benang yang akan digintir
IV. Cara Kerja
Langkah kerja dari proses penggintiran turun dan penyetelan arah twist adalah sebagai berikut :
1. Memasukkan atau melakukan benang yang akan diproses melalui kawat penghantar, batang penghantar, press dan delivery roll, lapet, traveller, kemudian dililitkan pada bobin, dan masuk pada spindel.
2. Menjalankan mesin dengan cara menekan tombol on pada mesin sambil mengamati jalannya proses awal pada penggintiran.
3. Menyambung benang bila putus dengan cara sambungan tenun.
4. Mencari arah twist benang asal. Untuk mengetahui arah twist benang asal dapat diketahui dengan cara memuntir kekanan dan ke kiri. Apabila twist benang terbuka dengan memilin kekanan, berarti twist awalnya S, dan apabila twist lepas saat memilin kekiri berarti twist asalnya Z.
5. Menentukan arah twist gintir.
6. Memasang pita spindle sesuai dengan rencana.
Apabila twist menghendaki arah S , maka dapat ditempuh dengan cara pengaturan pita spindle sebagai berikut :
V. Data Percobaan
a. Gearing Diagram
T2
Ket :
1. Tin Roll 1. T1 : 17 5. T5 : 22
2. Yockey Pulley 2. T2 : 32 6. T6 : 71
3. Spindle 3. T31 : 19 T32 ;17 T33;15 T34; 13 7. T7 : 36
4. Pita Spindle 4. T4 : 41 8. T8 ; 24
D1
|
2,82
|
D2
|
15,7
|
D spindle
|
2,3
|
D Tin Roll
|
21,84
|
D delivery roll
|
5,1
|
Diameter
|
Produksi nyata = 57,33 – 56,56 = 0,67
VI. Pertanyaan/Tugas akhir
1. Gambarlah gearing diagram dan jalanya proses penggintiran berikut
keterangannya ?
T2
Ket :
1. Tin Roll 1. T1 : 17 5. T5 : 22
2. Yockey Pulley 2. T2 : 32 6. T6 : 71
3. Spindle 3. T31 : 19 T32 ;17 T33;15 T34; 13 7. T7 : 36
4. Pita Spindle 4. T4 : 41 8. T8 ; 24
2. Hitung produksi per spindle per jam untuk nomor benang yang saudara kerjakan !
Produksi/jam/ spindle =
0,67/1,37 x 100 = 48,90
3. Jelaskan maksud dan tujuan penyetelan arah twist penggintiran !
Penyetelah arah twist adalah mengatur arah putaran spindel supaya diperoleh benang gintir dengan arah twist yang sesuai , tujuannya adalah untuk mendapatkan arah twist yang sesuai dengan keinginan dan agar tidak terjadi salah twis
4. Hitunglah TPI dan nomor gintir untuk benang yang digintir Ne1 20 dan Ne1 30 dengan cara mengubah-ubah roda gigi !
TC = 100 – 48,90/100 x 100 = 51,1%
5. Bila benang asal berbeda arah twistnya apa yang terjadi pada benang gintirnya ?
Apabila benang yang berbeda arah twistnya digintir ( arah s dan z ) maka akan menghasilkan benang yang arah gintirannyas atau z sesuai dengan arah putaran spindel.
Misal arah putaran spindel ( arah pita spindel z ) maka benang dihasilkan akan arah s dan begitu pula sebaliknya
VII. Diskusi
Hasil analiasa pada proses penggintiran sangat sedikit pada produksi nyatanya karena assisten memberikan waktunya 5 menit sehingga effisiensi nya kecil yaitu 48,90 %. Pada pratikum penggintiran tidak terjadi permasalahan yang harus dibahas.
VIII. Kesimpulan
Dari hasil praktikum diperoleh hasil sebagai berikut :
1. N Spindle = rpm
2. N Delivery Roll = NDR1, rpm NDR2, = NDR3 NDR4 =
3. TPI =
IX. Daftar Pustaka
STTT. .Teknologi Persiapan Pertenunan.Bandung:STTT
0 Response to "LAPORAN TEKNOLOGI PERSIAPAN PERTENUNAN PENGGINTIRAN TURUN DAN PENYETELAN ARAH TWIST"
Post a Comment